Gunungan

Gunungan adalah adalah figur dalam pewayangan yang berupa gambaran gunung. Gunungan yang juga disebut Kayon ini merupakan elemen penting dalam pertunjukan wayang kulit, karena dia yang pertama dan terakhir ada di tengah layar atau kelir, sebagai pembuka dan penutup pertunjukan.

Gunungan juga befungsi sebagai tanda transisi antar babak dalam pertunjukan wayang. Dalang akan memainkan gunungan saat membuka dan menutup babak cerita wayang yang dibawakannya. Gunungan juga berfungsi untuk menggambarkan kekuatan besar dan perubahan besar yang ada dalam cerita wayang.

Secara umum bentuk Gunungan meruncing seperti gunung dengan dua sisi yang digambar berbeda. Pada satu sisi, di bagian bawahnya digambarkan sebuah bangunan dan pintu gerbang yang dijaga raksasa bersenjata. Ini bisa mewakili wujud istana saat pertunjukan wayang.

Lalu di atasnya ada pohon besar yang penuh dengan binatang-binatang layaknya di sebuah hutan. Pohon Kalpataru atau pohon kehidupan berserta para fauna ini selain menggambarkan hutan juga menggambarkan dunia atau alam semesta.

Sementara di sisi sebaliknya digambar kobaran api. Ini untuk menggambarkan api, neraka, atau kekacauan. Sedangkan wajah Kala di antara kobaran api sebagai simbol waktu atau marabahaya.

Lebih dari itu, Gunungan dapat difungsikan untuk mewakili banyak hal, mulai dari angin, samudra, petir, sampai membantu transisi tokoh wayang saat menghilang atau berubah wujud.

Wayang

Salah satu budaya Bangsa Indonesia yang dikenal luas adalah wayang. Seni pertunjukan tradisional ini sangat identik dan menjadi salah satu ikon budaya Indonesia.

Wayang tidak hanya sekadar tontonan atau hiburan semata, tetapi juga tuntunan, karena ia menjadi sarana transmisi nilai. Dari cerita wayang diajarkan nilai didaktis seperti kejujuran, keadilan, keberanian, kebijaksanaan dan lain sebagainya yang penting dalam kehidupan.

Cerita wayang tidak hanya menyuguhkan hiburan, tapi juga seolah sebuah bayangan kehidupan yang dapat menjadi sarana refleksi diri.

Wayang telah menjadi bagian dari budaya bangsa sejak zaman dahulu kala. Bentuk wayang bermacam-macam dari wayang kulit, wayang golek, wayang klitik, wayang beber, dan lain sebagainya.

Wayang kulit merupakan varian wayang yang sangat dikenal. Stilisasi tiap tokoh yang dipercaya dipelopori Sunan Kalijaga ini menampilkan seni rupa yang memukau dari tatahan (detail ukiran karakter) sampai sunggingan (pewarnaan).

Bahkan jauh sebelum Bangsa Barat mengenal animasi, bangsa kita sudah membuat animasi yaitu wayang kulit.

Meski cerita dan tokoh wayang yang dikenal adalah dari Epos India seperti Ramayana dan Mahabarata, yang masuk bersama masuknya Hindu dan Buddha, namun ada pula cerita asli Nusantara dalam wayang yaitu cerita Panji.

Wayang tidak hanya menceritakan kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan, tetapi juga bahwa di dalam tokoh yang jahat terkadang ada kebaikan dan begitu pula sebaliknya. Ini seolah bayangan kehidupan bahwa terkadang hidup itu tidak hanya hitam dan putih.